Urutan hari dan pasaran Jawa lengkap dengan arti, neptu, dan penjelasan sistem weton tradisional lengkap dan informatif.
Masyarakat Jawa memiliki sistem penanggalan tradisional yang unik dan sarat makna. Selain mengenal tujuh hari seperti dalam kalender Masehi, budaya Jawa juga mengenal lima hari pasaran yang berjalan bersamaan.
Kombinasi antara hari dan pasaran inilah yang kemudian dikenal sebagai weton
. Sistem ini tidak hanya digunakan untuk penanggalan, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan budaya, seperti menentukan hari baik, perhitungan adat, hingga tradisi pernikahan.
Pemahaman mengenai urutan hari dan pasaran Jawa penting agar generasi muda tetap mengenal warisan budaya leluhur. Dengan memahami konsep dasar, arti, serta perhitungan neptu, masyarakat dapat melihat bahwa sistem kalender Jawa bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari identitas budaya yang bernilai filosofis tinggi.
Urutan Hari Jawa
Dalam sistem kalender Jawa, terdapat tujuh hari yang sama dengan kalender Masehi, yaitu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Nama-nama ini merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dengan pengaruh Islam dan sistem penanggalan internasional.
Dalam tradisi Jawa klasik, setiap hari memiliki nilai angka yang disebut neptu
. Nilai neptu hari digunakan dalam berbagai perhitungan tradisional.
Sebagai contoh, Minggu memiliki neptu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Nilai ini dijumlahkan dengan neptu pasaran untuk menentukan weton seseorang.
Urutan Pasaran Jawa
Selain tujuh hari umum, kalender Jawa mengenal lima hari pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kelima pasaran ini berputar setiap lima hari sekali dan berjalan berdampingan dengan hari biasa.
Sistem pasaran sudah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dalam praktiknya, kombinasi hari dan pasaran membentuk siklus 35 hari yang disebut selapanan
.
Masing-masing pasaran memiliki nilai neptu, yaitu Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8. Siklus ini sering digunakan untuk menentukan peringatan kelahiran dan pelaksanaan tradisi selametan.
Makna dan Perhitungan Weton
Weton adalah gabungan antara hari dan pasaran saat seseorang dilahirkan. Dalam tradisi Jawa, weton dipercaya mencerminkan karakter, keberuntungan, dan kecocokan dalam hubungan sosial.
Cara menghitung weton dilakukan dengan menjumlahkan neptu hari dan neptu pasaran. Hasil penjumlahan tersebut kemudian diinterpretasikan berdasarkan primbon Jawa.
Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Jumat Kliwon memiliki neptu 6 dari Jumat dan 8 dari Kliwon, sehingga totalnya 14. Angka ini kemudian dicocokkan dengan tafsir tertentu dalam tradisi Jawa.
Kesimpulan
Urutan hari dan pasaran Jawa merupakan bagian penting dari sistem kalender tradisional yang masih dikenal hingga saat ini. Tujuh hari umum dan lima pasaran membentuk siklus unik yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa.
Melalui konsep neptu dan weton, kalender Jawa menghadirkan nilai filosofis yang mencerminkan kearifan lokal. Dengan mempelajari sistem ini secara edukatif, masyarakat tidak hanya memahami cara perhitungannya, tetapi juga menghargai makna budaya di baliknya.
Komentar