Panduan edukatif mengenal kata baku dan tidak baku agar penulisan lebih tepat sesuai kaidah bahasa Indonesia.
Kata baku dan tidak baku merupakan bagian penting dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering kali menggunakan kata tanpa menyadari apakah kata tersebut termasuk baku atau tidak baku. Padahal, pemilihan kata yang tepat sangat berpengaruh terhadap kejelasan makna, terutama dalam konteks pendidikan, penulisan resmi, dan komunikasi formal.
Kesalahan penggunaan kata baku sering terjadi karena pengaruh kebiasaan lisan, media sosial, dan kurangnya pemahaman terhadap pedoman bahasa. Banyak kata tidak baku yang terdengar akrab sehingga dianggap benar, padahal tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pemahaman mengenai perbedaan kata baku dan tidak baku perlu ditingkatkan agar masyarakat mampu berkomunikasi secara lebih efektif dan tepat.
Pengertian Kata Baku
Kata baku adalah kata yang penulisannya sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah ditetapkan. Acuan utama dalam menentukan kata baku adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Kata baku biasanya digunakan dalam situasi formal, seperti penulisan karya ilmiah, surat resmi, dokumen pemerintahan, serta kegiatan akademik.
Penggunaan kata baku bertujuan untuk menciptakan keseragaman bahasa sehingga pesan dapat dipahami secara luas tanpa menimbulkan ambiguitas. Contoh kata baku antara lain “aktivitas”, “izin”, dan “nasihat”. Dengan membiasakan diri menggunakan kata baku, masyarakat turut menjaga kelestarian dan keteraturan bahasa Indonesia.
Ciri Kata Tidak Baku
Kata tidak baku adalah kata yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia atau tidak tercantum dalam KBBI. Kata jenis ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, bahasa daerah, atau komunikasi nonformal. Meskipun umum digunakan, kata tidak baku sebaiknya dihindari dalam situasi resmi.
Ciri utama kata tidak baku antara lain dipengaruhi oleh pelafalan lisan, penyingkatan, atau adaptasi dari bahasa asing yang belum disesuaikan. Contohnya adalah “aktifitas”, “ijin”, dan “resiko”. Kesalahan ini sering terjadi karena pengucapan yang terdengar lebih familiar. Dengan mengenali cirinya, pembaca dapat lebih waspada dalam memilih kata saat menulis.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Kesalahan penggunaan kata baku dan tidak baku masih sering ditemukan, baik di media cetak maupun digital. Salah satu penyebab utamanya adalah kebiasaan menulis sesuai dengan apa yang didengar, bukan berdasarkan aturan yang berlaku. Selain itu, kurangnya kebiasaan memeriksa KBBI juga memperbesar kemungkinan kesalahan.
Dalam dunia pendidikan dan profesional, kesalahan ini dapat mengurangi kredibilitas penulis. Oleh karena itu, penting untuk membiasakan diri mengecek kata yang diragukan kebenarannya. Langkah sederhana ini dapat meningkatkan kualitas tulisan sekaligus memperkuat kemampuan berbahasa Indonesia secara keseluruhan.
Kesimpulan
Pemahaman mengenai kata baku dan tidak baku sangat penting dalam penggunaan bahasa Indonesia. Kata baku berfungsi sebagai standar bahasa resmi, sedangkan kata tidak baku umumnya digunakan dalam situasi santai dan informal. Kesalahan dalam memilih kata dapat memengaruhi kejelasan pesan dan kualitas komunikasi.
Dengan membiasakan diri menggunakan kata baku, masyarakat dapat berkomunikasi secara lebih efektif dan profesional. Pemeriksaan kata melalui KBBI serta pemahaman dasar ejaan menjadi langkah penting dalam meningkatkan keterampilan berbahasa. Melalui pendekatan edukatif dan konsisten, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Komentar