Edukasi praktis penggunaan kata baku dan tidak baku menurut KBBI untuk meningkatkan kualitas tulisan secara profesional.
Bahasa Indonesia adalah identitas bangsa yang terus berkembang seiring
dinamika zaman dan peradaban manusia di Nusantara. Sebagai alat komunikasi
resmi, penggunaan bahasa yang baik dan benar bukan sekadar formalitas
akademik, melainkan bentuk penghormatan terhadap martabat bangsa sendiri.
Namun, dalam praktik sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam penggunaan
kata yang tidak baku karena pengaruh dialek daerah atau paparan informasi yang
keliru secara berulang.
Ketidaktahuan ini sering kali dianggap lumrah, padahal
penggunaan kata baku sangat krusial dalam dokumen resmi, karya ilmiah, hingga
korespondensi profesional yang membutuhkan ketegasan makna. Memahami perbedaan
antara kata baku dan tidak baku membantu kita menghindari ambiguitas yang
mungkin muncul dalam komunikasi tulisan maupun lisan. Artikel ini akan
mengupas tuntas beberapa kata yang paling sering tertukar agar masyarakat
lebih teliti dalam berbahasa. Mari kita mulai perjalanan literasi ini dengan
membuka pikiran bahwa setiap huruf dalam sebuah kata memiliki peran besar
dalam menyampaikan pesan yang akurat dan beradab bagi sesama pengguna bahasa.
Daftar Kata Baku Paling Populer
Mari kita bedah beberapa kata yang sering salah tulis. Pertama adalah kata
"sekadar", banyak orang masih menulisnya sebagai "sekedar". Padahal, kata
dasarnya adalah "kadar", sehingga bentuk bakunya menggunakan huruf 'a'.
Kesalahan ini sangat masif ditemukan mulai dari tulisan di media sosial hingga
spanduk di jalanan. Selanjutnya adalah kata "analisis" yang sering ditulis
"analisa". Perlu diketahui bahwa dalam penyerapan bahasa asing, akhiran
'-ysis' diserap menjadi '-isis' dalam bahasa Indonesia. Hal yang sama berlaku
pada kata "hipotesis", bukan "hipotesa". Ketelitian dalam memilih satu huruf
saja dapat mengubah impresi pembaca terhadap kualitas intelektual seorang
penulis.
Menggunakan kata baku menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang
menghargai aturan dan memiliki kedisiplinan dalam berpikir. Selain itu, kata
"apotek" sering kali salah diucapkan atau ditulis menjadi "apotik". Jika kita
merujuk pada bidang ilmunya yaitu "apoteker", maka jelas bahwa huruf 'e'
adalah yang benar. Membiasakan diri mengecek Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah langkah awal yang sangat bijak. Kita tidak perlu menghafal seluruh isi
kamus, cukup dengan memiliki rasa penasaran yang tinggi setiap kali hendak
menuliskan kata yang diragukan kebenarannya. Dengan begitu, tulisan kita akan
memiliki standar yang tinggi dan mudah dipahami oleh semua kalangan tanpa
menimbulkan kebingungan makna yang mendalam.
Pentingnya Menggunakan Pedoman Resmi
Mengapa kita harus peduli dengan standarisasi bahasa? Standarisasi ada untuk
memastikan bahwa komunikasi antarwarga dari Sabang sampai Merauke tetap
seragam dan tidak terdistorsi oleh bahasa serapan yang salah kaprah. Misalnya,
penggunaan kata "praktik" vs "praktek". Kata yang benar adalah "praktik"
karena merujuk pada kata "praktisi". Penggunaan ejaan yang benar mencerminkan
profesionalisme seseorang dalam bekerja. Ketika seorang karyawan mengirimkan
laporan dengan ejaan yang berantakan, kredibilitasnya bisa menurun di mata
atasan atau klien. Oleh karena itu, edukasi mengenai kata baku harus terus
digalakkan di ruang publik.
Kita sering melihat kata "risiko" ditulis menjadi
"resiko". Meskipun terdengar mirip, perbedaan satu huruf ini sangat menentukan
dalam pencarian data digital melalui mesin pencari atau sistem pengarsipan.
Bahasa Indonesia yang tertib secara administratif akan memudahkan proses
dokumentasi sejarah dan pengetahuan bagi generasi mendatang. Masyarakat perlu
menyadari bahwa bahasa adalah organisme hidup yang harus dirawat dengan cara
digunakan secara benar sesuai tempatnya. Jika kita terbiasa menggunakan bentuk
yang tidak baku dalam situasi formal, maka lama-kelamaan identitas bahasa kita
akan luntur dan tergantikan oleh bentuk yang salah namun dianggap benar karena
faktor kebiasaan semata. Inilah yang harus kita cegah bersama melalui literasi
yang konsisten dan berkelanjutan di setiap lapisan masyarakat kita saat ini.
Strategi Belajar Bahasa Mandiri
Belajar bahasa tidak harus membosankan seperti di dalam kelas. Kita bisa
memulai dengan memperhatikan tulisan-tulisan di media massa yang bereputasi
tinggi. Biasanya, media besar memiliki editor bahasa yang sangat ketat dalam
menjaga standar baku. Selain itu, penggunaan aplikasi KBBI daring di ponsel
pintar dapat menjadi solusi praktis saat kita ragu dalam menulis sebuah kata.
Jangan ragu untuk saling mengoreksi dengan cara yang sopan jika melihat rekan
atau kerabat salah menuliskan kata baku. Budaya saling mengingatkan ini akan
menciptakan ekosistem berbahasa yang sehat di lingkungan kita. Ingatlah bahwa
bahasa menunjukkan bangsa; kualitas bahasa yang kita gunakan mencerminkan
kualitas pemikiran kita sebagai individu maupun kolektif.
Proses adaptasi memang memerlukan waktu, namun jika dilakukan dengan niat yang tulus untuk
memajukan budaya nasional, maka penggunaan kata baku akan menjadi kebiasaan
yang alami tanpa terasa terbebani. Kita juga harus menghargai upaya para ahli
bahasa yang terus memutakhirkan pedoman agar bahasa Indonesia tetap relevan
dengan perkembangan zaman namun tetap memiliki fondasi yang kuat pada akar
budayanya. Setiap kata yang kita pilih adalah investasi bagi citra diri kita
di hadapan publik. Mari kita jadikan penggunaan bahasa Indonesia yang benar
sebagai gaya hidup modern yang membanggakan bagi seluruh rakyat Indonesia di
mana pun mereka berada saat ini.
Kesimpulan Penutup Artikel Edukasi
Sebagai penutup, penguasaan kata baku adalah keterampilan dasar yang sangat berharga di era informasi ini. Dengan memahami perbedaan antara kata baku dan tidak baku, kita telah berkontribusi dalam melestarikan bahasa nasional agar tetap berwibawa. Konsistensi dalam menggunakan bahasa yang benar adalah bentuk cinta kita terhadap tanah air melalui jalur literasi. Semoga panduan singkat ini bermanfaat bagi Anda yang ingin meningkatkan kualitas komunikasi secara efektif dan profesional. Mari terus belajar dan bangga menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam setiap kesempatan karena bahasa adalah cermin kepribadian bangsa yang agung.
Credit :
Penulis : Nabilla Putri
Gambar oleh Pixabay Nano Banana - Gemini Google
Referensi :

Komentar