Menelusuri jejak sejarah bahasa Belanda yang menyatu dalam kosakata harian Indonesia dari urusan dapur hingga istilah profesional.
Bahasa Indonesia adalah sebuah mosaik budaya yang kaya, di mana setiap kepingannya menyimpan cerita perjalanan sejarah bangsa. Salah satu pengaruh yang paling dominan namun sering tidak kita sadari adalah warisan bahasa Belanda. Selama lebih dari tiga abad interaksi kolonial, bahasa Belanda tidak hanya hadir sebagai bahasa administrasi atau hukum, tetapi juga meresap ke dalam sumsum percakapan informal masyarakat. Fenomena ini menciptakan sebuah realitas unik: banyak orang Indonesia yang sebenarnya "berbicara" bahasa Belanda setiap hari tanpa pernah mengikuti kursus bahasa secara formal.
Dari saat kita membuka keran air di pagi hari, mengenakan kaos kaki, hingga bekerja di kantor, kita sedang menghidupkan kembali memori linguistik yang telah mengalami proses naturalisasi selama ratusan tahun. Hubungan ini bukan sekadar peminjaman kata, melainkan sebuah adaptasi budaya di mana kata-kata tersebut disesuaikan dengan lidah nusantara hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas nasional kita.
Jejak Arsitektur dan Perlengkapan Rumah Tangga
Pengaruh Belanda sangat terasa pada istilah-istilah yang berkaitan dengan infrastruktur dan peralatan rumah modern yang diperkenalkan pada masa itu. Masyarakat Indonesia mengadopsi kata-kata seperti balkon, terass (teras), dan kelder (ruang bawah tanah). Di dalam rumah, kita menggunakan wastafel, handdoek (handuk), dan sprei. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi dan gaya hidup rumah tangga ala Eropa pada masa kolonial dibawa beserta label bahasanya. Kata meubels berubah menjadi mebel, dan koelkast menjadi kulkas. Penggunaan kata-kata ini begitu organik sehingga banyak generasi muda tidak menyadari bahwa benda-benda di sekitar mereka memiliki nama yang berakar dari bahasa Jermanik Barat.
Istilah Medis dan Administrasi Formal
Dunia profesional dan birokrasi Indonesia merupakan "gudang" bagi kosakata serapan Belanda. Dalam bidang kesehatan, istilah seperti dokter, apotek (apotheek), perawat (verpleger), hingga operasi (operatie) adalah serapan langsung. Begitu pula dalam sistem hukum; kata advokat, vonis (vonnis), dan kasasi adalah peninggalan sistem peradilan Belanda yang masih kita gunakan hingga saat ini. Di dunia kerja, kita mengenal istilah gaji (gage), pensiun (pensioen), dan kantor (kantoor). Hal ini membuktikan bahwa struktur formal kenegaraan Indonesia dibangun di atas fondasi istilah yang sudah mapan sejak era kolonial, memudahkan transisi administratif pada masa awal kemerdekaan.
Kuliner dan Kehidupan Sosial
Uniknya, bahasa Belanda juga masuk ke meja makan kita. Kata bistik berasal dari biefstuk, sosis dari saucijs, dan selai dari gelei. Bahkan aktivitas santai seperti plesir berasal dari kata pleizier yang berarti kesenangan. Di jalan raya, kita menemui knalpot, persneling, dan kopling (koppeling). Fakta bahwa kata-kata teknik dan kuliner ini bertahan menunjukkan betapa dalamnya integrasi budaya yang terjadi. Kita tidak hanya meminjam kata, tetapi juga menyerap konsep fungsional yang dibawa oleh bangsa Belanda ke dalam gaya hidup lokal.
Kosakata Teknik dan Otomotif di Jalan Raya
Salah satu sektor yang paling banyak menyerap istilah Belanda adalah bidang teknik dan otomotif. Hal ini terjadi karena kendaraan bermotor dan mesin-mesin industri pertama kali diperkenalkan ke Nusantara oleh teknisi-teknisi Belanda. Tanpa kita sadari, saat membicarakan kendaraan, kita sering menggunakan bahasa Belanda yang sudah disesuaikan pelafalannya. Kata onderdil berasal dari onderdeel yang berarti suku cadang, sementara bengkel berasal dari kata winkel yang sebenarnya berarti toko. Istilah teknis seperti persneling (versnelling), kopling (koppeling), rem (rem), hingga knalpot (knalpot) adalah bukti nyata betapa dominannya pengaruh Belanda dalam membetuk standar istilah otomotif di Indonesia. Ketergantungan pada istilah-istilah ini memudahkan komunikasi antara mekanik dan pengguna kendaraan sejak zaman dahulu hingga sekarang.
Istilah Pendidikan dan Keilmuan
Dunia pendidikan modern di Indonesia juga memiliki akar yang kuat dalam sistem edukasi Belanda, yang membawa serta berbagai istilah akademik ke dalam bahasa kita sehari-hari. Kata sekolah memang serapan lama, namun istilah seperti universitas (universiteit), dosen (docent), profesor (professor), hingga skripsi (scriptie) menunjukkan pengaruh struktur pendidikan tinggi Belanda. Bahkan peralatan yang digunakan siswa seperti tas (tas), buku (boek), dan kapur (kalk) memiliki kemiripan yang sangat identik. Di ruang kelas, kita mengenal istilah ujian yang dalam konteks tertentu berkaitan dengan tentamen, serta pembagian jenjang seperti klas (klas). Integrasi kosakata ini dalam dunia pendidikan mencerminkan bagaimana sistem transfer ilmu pengetahuan pada masa lampau meninggalkan warisan intelektual yang masih kita gunakan dalam membangun masa depan bangsa.
Kesimpulan
Keberadaan ribuan kata serapan Belanda dalam bahasa Indonesia adalah bukti nyata bahwa bahasa bersifat dinamis dan adaptif. "Rahasia" di balik kemiripan ini terletak pada durasi kontak budaya yang sangat lama, yang memaksa terjadinya pertukaran linguistik demi kemudahan komunikasi dan adopsi teknologi. Meskipun kita telah merdeka secara politik, jejak-jejak bahasa ini tetap lestari sebagai kekayaan sejarah yang memperkaya diksi kita. Memahami asal-usul kata ini membantu kita menghargai evolusi bahasa Indonesia sebagai bahasa yang terbuka dan terus berkembang mengikuti zaman tanpa melupakan akar sejarahnya.
Credit :
Penulis : Nabilla Putri
Gambar oleh Pinterest, dan Pixabay
Referensi :
1. Wikipedia Bahasa Indonesia - Daftar Kata Serapan dari Bahasa Belanda
2. BBC News Indonesia - Artikel: Evolusi Bahasa Indonesia: Dari Mana Datangnya Kata-Kata
3. KBBI Daring
Komentar