Artikel ini membahas bagaimana kata-kata populer atau "slang" yang awalnya dianggap tidak baku kini resmi menjadi bagian dari Bahasa Indonesia.
Dulu, jika kita mengucapkan kata "mager" di tengah rapat formal atau di depan guru Bahasa Indonesia, mungkin kita akan mendapatkan kerutan di dahi sebagai tanda teguran. Namun, zaman telah berubah. Bahasa Indonesia bukan lagi sebuah monumen kaku yang hanya bisa ditemukan di buku-buku sastra lama. Ia adalah organisme yang hidup, bernapas, dan terus tumbuh bersama penggunanya. Munculnya kata-kata seperti ambyar, mager, hingga santuy dalam KBBI adalah bukti bahwa bahasa kita tidak sedang mengalami kemunduran, melainkan sedang merayakan kreativitas penuturnya.
Bahasa yang Bergerak Mengikuti Zaman
Bahasa selalu mencerminkan apa yang terjadi di masyarakat. Istilah "Mager" (malas gerak) muncul dari kebutuhan masyarakat digital yang menginginkan komunikasi serba cepat dan ringkas. Begitu juga dengan "Ambyar", kata dari bahasa Jawa yang menjadi populer secara nasional berkat fenomena budaya musik. Evolusi ini menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia sangat inklusif; ia mampu menyerap rasa dan emosi dari berbagai daerah serta tren modern untuk memperkaya perbendaharaan katanya sendiri.
Mengapa Kata "Gaul" Bisa Masuk KBBI?
Mungkin Anda bertanya, apa syarat sebuah kata bisa dianggap "resmi"? Tim penyusun kamus tidak sembarangan memasukkan kata baru. Sebuah kata harus memenuhi beberapa kriteria, seperti:
Unik: Memberikan konsep yang belum ada dalam bahasa Indonesia baku.
Populer: Digunakan secara luas oleh masyarakat dalam jangka waktu tertentu.
Sedap didengar: Memiliki struktur yang sesuai dengan kaidah fonologi Indonesia. Masuknya kata-kata ini adalah bentuk pengakuan bahwa bahasa "gaul" bukan musuh bahasa baku, melainkan pelengkap yang membuat komunikasi terasa lebih manusiawi.
Menghargai Kreativitas dalam Berkomunikasi
Perubahan ini membawa dampak positif pada cara kita memandang identitas bangsa. Kita tidak lagi merasa terbebani untuk selalu berbicara seperti "robot" agar dianggap benar. Dengan masuknya kosakata baru yang lebih ekspresif, kita bisa menyampaikan perasaan dengan lebih tepat. Bahasa Indonesia menjadi lebih berwarna, lebih cair, dan yang paling penting: lebih dekat dengan hati penggunanya, baik anak muda maupun orang dewasa.
Kesimpulan
Perkembangan Bahasa Indonesia melalui kata-kata baru seperti ambyar dan mager adalah tanda bahwa bangsa kita adalah bangsa yang kreatif dan adaptif. Kamus bukan lagi sekadar daftar kata yang membosankan, melainkan sebuah rekaman sejarah tentang bagaimana kita berpikir, merasa, dan berinteraksi setiap harinya. Mari terus menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga, baik yang baku maupun yang sedang tren, karena setiap kata punya cerita dan setiap cerita memperkuat jati diri kita.
Komentar